Selamat jalan babe…

Sebenarnya sudah dua bulan babe pergi (panggilan saya kepada bapak), memang sengaja karena menunggu 40 hari beliau. Sedikit saya ceritakan bagaimana beliau meninggal, semoga cerita saya bisa membuat mereka yang membaca dan masih lengkap orang tuanya lebih mencintai dan menyayangi mereka.
Saya bukanlah anak yang bandel yang tak tahu aturan tapi saya lebih bertipe cuek kepada orang tua, termasuk ketika beliau (kedua orang tua) sakit. Saya bergerak ketika ada perintah dari bapak/ibu selepas itu saya hanya cuek. Tetapi hari itu (tepatnya 29 Maret) saya tidak merasa bahwa bapak akan meninggal begitu cepat karena sakit yang belum jelas. Bukan guna-guna atau sihir sakit beliau ini. Bermula hari Selasa pagi, saya diminta ibu untuk memeriksakan bapak ke dokter setelah saya belikan sarapan. Saya diminta istri untuk ijin tidak masuk dan benar kata istri, setelah saya periksakan ke dokter (kebetulan dokternya tidak sesuai permintaan bapak), beliau hanya tidur seharian sampai bada’ dhuhur. Ibu membangunkan beliau karena mau diperiksa petugas¬†puskesmas untuk cek darah. Petugas tersebut datang karena diminta oleh tetangga saya (yang seperti saudara sendiri), kemudian beliau ijin pipis ke kamar mandi. Di kamar mandi beliau sangat lama, sampai saya, ibu dan tetangga memanggil bapak. Sampai akhirnya terdengar suara hembusan nafas yang sangat keras, saya dobrak, saya mendapati beliau sudah duduk di kamar mandi. Saya dibantu tetangga yang lainnya langsung membawa beliau ke rumah sakit Kustati. Di Kustati, bapak dirujuk ke rumah sakit Yarsis karena ruang stroke (waktu itu pihak rumah sakit mendiagnosa bapak sakit stroke). Jam dua siang, bapak di bawa ke Yarsis. Beliau akan discan terlebih dahulu kemudian baru dijelaskan sakitnya apa dan di sini pihak Yarsis juga bingung dengan sakit bapak. Akhirnya beliau di bawa ke ruang stroke, di sana saya dan istri pulang untuk mandi dan membawakan ibu, bapak pakaian karena akan menginap di rumah sakit. Jam tujuh malam kurang saya dan istri sampai Yarsis, di sana saya diberitahu ibu bahwa kondisi bapak terus menurun. Ketika jam besuk, saya membacakan surat Yasin dan terus membisikkan kalimat-kalimat Syahadat, Istighfar walau beliau tidak dapat mengucapkan saya meminta untuk membatinnya di dalam hati. Jam setengah delapan, saya diminta mengambil obat selesai jam sembilan kurang, saya lanjutkan Yasinnya setelah selesai kondisi bapak menurun, didoakan oleh ustad di sana. Saya sudah merasa tetapi saya masih berharap kemudian ibu dan istri dipanggil dokter dan dokter sudah berusaha memacu jantung bapak. Tepat jam setengah sepuluh bapak meninggal. Innalillahi wa innalilahi roji’un. Jam setengah sebelas jasad bapak baru bisa dibawa pulang setelah dibantu saudara untuk melunasi administrasi rumah sakit. Jam sebelas kurang bapak sampai di rumah, pagi beliau dimandikan, saya juga ikut memandikan. Jam satu siang bapak dimakamkan di Daksinoloyo Danyung. Selesai bapak dimakamkan hujan deras mengguyur, masya Allah.

Advertisements

2 thoughts on “Selamat jalan babe…

  1. Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un, semoga khusnul khatimah amin.
    Kisah yang menyentuh Pak, semua akan kembali, kita yang hidup hanya bisa berdoa dan berusaha meneruskan amal baik beliau.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s