Meng-IGN-isasi Laptop/Netbook SMK Negeri 9 Surakarta

Klik continue read more untuk membaca tulisan saya ini.
Sebagai pengguna tetap IGN (baru dari rilis 9.0) saya berusaha mengenalkan IGN melalui pembelajaran salah satunya dengan menampilkannya ke layar. Baru semester ini, terhitung bulan Januari saya memberanikan diri untuk mengajar menggunakan IGN D9.0 di beberapa mata pelajaran yang saya ampu. Dan mencoba apakah hal tersebut mendapat respon balik. Dari perjalanan sampai bulan April ini ternyata hanya satu kelas saja yang tertarik untuk diinstalkan IGN, yaitu kelas X jurusan Multimedia A. Diluar perkiraan saya karena pilot project saya justru di TKJ tetapi respon yang didapat adalah NOL.

Kisahnya dimulai dari sini : 
Mengajar satu hari (dari jam ke 4-9) dengan kelas X Multimedia A, membuat saya mencoba menggunakan Inkscape & GIMP sebagai perangkat lunak pengolah vektor dan bitmap di salah satu subbab mata pelajaran Pengelolaan Sistem Informasi. Menceramahi mereka agar menggunakan perangkat lunak open source membuat beberapa siswi saya tertarik untuk diinstalkan IGN ke dalam laptop/netbook mereka, dan mereka makin mantap untuk diinstalkan IGN setelah saya ajak mereka siaran live on air di Radio Gesma beberapa waktu lalu. Yah memang belum banyak baru ada TIGA SISWI dari 32 siswa-siswi dalam satu kelas tetapi hal ini membuat saya bangga bahwa mereka tertarik untuk menggunakan dan mengeksplorasi IGN.
Seperti Customer Sevice, saya berusaha menjawab beberapa pertanyaan mereka yang belum mereka pahami karena IGN bukan Windows yang mudah klik Next, Next, Next dan Finish ketika menginstal software. Ada kalanya saya banyak bertanya ke forum IGN Facebook untuk masalah yang belum dapat saya pecahkan. Tapi tak apalah saya yakin akan ada hikmah dan kabar bahagia dari Allah Ta’ala untuk hal yang saya kerjakan. Berikut screenshot laptop/netbook para siswi saya yang telah diinstal IGN.

IMG_20140325_115903

IMG_20140403_144230

IMG_20140408_150847

Ada sedikit catatan ketika siswi saya bertanya, “pak, cara menginstal game bagaimana?” Saya jawab, silakan gunakan yumex nanti klik Group dan bisa cari game yang sudah dikelompokkan. Dan siswi saya pun mengaksesnya tetapi hasil yang didapat nothing to do. Saya sarankan untuk mengupdate repositorinya melalui yum di terminal dengan perintah “sudo yum update”.

Sedikit usul dari saya,

  1. Dibuatnya update otomatis seperti di Ubuntu
  2. Penambahan aplikasi di lumbung repositori

Sedikit cerita saya tentang cara mengenalkan IGN di SMK Negeri 9 Surakarta, dan inilah sedikit kontribusi saya untuk Nusantara. Mana kontribusimu?

NB : Instalasi IGN masih dual boot dengan Windows

Advertisements

5 thoughts on “Meng-IGN-isasi Laptop/Netbook SMK Negeri 9 Surakarta

  1. selama menginstall-kan IGN ini apa ada kendalanya pak? seperti misal masalah EFI/UEFI, masalah partisi, kompatibilitas perangkat atau yang lain?

  2. Yang jadi masalah di mana-mana

    1) kompatibilitas hardware,
    2) sistem manajemen paket.

    Seandainya IGN itu punya sistem bundel, maksud saya seperti Windows Service Pack, itu akan menghapus satu dari dua penghalang di atas. Apa itu service pack? Service pack adalah satu paket RPM berisi paket-paket RPM lain yang bertugas menginstal 1 aplikasi lengkap dengan dependensinya untuk 1 versi IGN. Pengguna akhir jadi bisa

    1) instal
    2) simpan installer
    3) berbagi installer sesama pengguna IGN
    4) cukup unduh 1 berkas untuk semua dependensi dari 1 tempat untuk memperoleh installer

    Keempat poin ini yang seringkali kacau balau di bidang sistem manajemen paket di masyarakat. Baik keluarga Debian atau Red Hat. Itu yang bikin orang ogah Linux. Utamanya pada pengguna baru. Nantinya, kalau sistem ini benar-benar dibikin, masyarakat akan merambah ke nomor 5 ini:

    5) muncul DVD serive pack berisi banyak aplikasi dan didistribusikan ke sekolah-sekolah atau masyarakat lainnya

    Kalau sudah begitu, barulah pengguna bisa menyebut mudah instalasi aplikasi di IGN dan baru dengan itu, mereka akan mau menggunakan secara kolektif (walau harus dualboot dulu). Silakan akang sebagai guru bayangkan, sulit bagi para guru instal aplikasi Linux (Windows aja kadang ada yang gak tahu). Dengan sistem bundel, mereka akan sangat dimudahkan. Just do double click. Karena di Indonesia ini, pengguna tidak pernah butuh OS. Mereka butuh aplikasi. Saya kasih contoh service pack (SP) yang pantas dibikin lebih dulu:

    1) SP khusus Wine
    2) SP khusus Codec
    3) SP khusus GIMP
    4) SP khusus Inkscape
    5) SP khusus Chrome/browser lain
    6) SP khusus driver NVIDIA

    Kalau sekiranya sistem add/remove program IGN masih seperti sekarang, saya tidak heran akan susah mengajak orang menggunakan. Cukup dikembalikan ke diri sendiri, apa gampang menginstal aplikasi dalam keadaan internet kosong? Seperti kalimat yang ada tulisan NOL di atas.

    Ini hanya pendapat pribadi saya saja, Kang. Overview untuk turut membangun IGN dari ide. Sedikit dari yang paling sedikit. Terima kasih.

    NB: kunci dari penciptaan setiap bundel, ada di posting terbaru akang masalah offline package management system di IGN.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s