Ibu saya dan ayahnya Robert Kiyosaki

Setelah tadi berbincang dengan teman saya, pak A. Nakhomi (guru) namanya maka disarankan untuk menuliskan dalam bentuk tulisan apapun yang ada dalam otak kita tetapi karena saya tidak mempunyai buku terpaksa saya menulisnya dalam bentuk digital.
Suatu waktu saya pernah berbincang dengan ibu (kandung) saya, karena ibu saya adalah orang yang saya sangat cintai dan ingin bagi saya untuk membahagiakan beliau. Dalam perbincangan tersebut ada beberapa hal yang tidak membuat saya setuju dengan keputusan beliau. Tetapi karena beliau adalah orang tua yang melahirkan saya dan saya sangat menyayangi beliau maka saya cuma bisa diam dan mengiyakan. Beliau beralasan bahwa saya kuliah Strata-1 dan Akta 4 dengan tujuan menjadi guru dan berkarir, ketika saya beberapa bulan lagi saya menikah dan berpikir untuk mencari kerja sampingan yang tak lain adalah berjualan. Beliau berpikir bahwa hal tersebut harus dikerjakan oleh calon istri saya sendiri karena waktu yang lebih longgar sedangkan saya harus bekerja dan berkarir (kebetulan saya menjadi guru dan staf kurikulum), bisa melanjutkan kuliah Strata-2 dan menjadi dosen sekali lagi ini juga didukung oleh nenek saya (ibunya ibu saya). Sebenarnya saya ingin melepas menjadi staf dan menjadi guru saja dengan tujuan bisa berkonsentrasi mengajar dan berjuang dengan calon istri saya untuk menyambung hidup, berwirausaha kecil-kecilan tetapi tetap diiringi dengan usaha+doa. Sekali lagi hal ini dilarang oleh ibu saya, saya cuma bisa diam.

Malam kembali saya merenung, ternyata pola pikir ibu saya seperti ayah kandungnya Robert Kiyosaki yang menginginkan anaknya kuliah dan lulus bekerja keras agar mendapatkan uang yang banyak (cerita sewaktu saya masih SMK dari guru kewirausahaan). Dulu sempat sewaktu menghapus virus di flashdisk pak Kepala Sekolah, saya pernah melihat film kartun pendek di mana isi ceritanya sangat bermakna, inti cerita : di sana diceritakan ada dua orang pemuda bernama Pipo dan Embro, yang mendapat tugas untuk mengambil air dari sumber air dan mengangkutnya (secara manual) untuk ditaruh ke dalam penampungan air. Embro yang berpikir bahwa mengangkut air lebih banyak akan mendapatkan uang yang banyak sehingga impiannya dapat tercapai sedangkan Pipo berpikir untuk membangun saluran air (walau membutuhkan waktu lama) agar tidak perlu bersusah payah mengangkut air dan uang pun mengalir dengan sendirinya. Dari cerita di atas saya dapat memilih jalan mana yang harus dipilih. Berikut saya jelaskan apa perbedaan berkarir dengan wirausaha (dan ini hanya pendapat saya saja).

  • Karir

+ : Keberhasilan yang dicapai hanya untuk kemajuan perusahaan, instansi, organisasi dan kelompok (tertentu), sedangkan balasannya adalah segala bentuk penghormatan, kekaguman, gaji, pangkat, jabatan, harta dan lainnya dan semua hal tersebut akan singgah hanya dalam waktu beberapa tahun.
– : Ada dua resiko ketika memilih berkarir, 1. Harus pensiun karena usia dan 2. Karena persaingan buruk (saling menjatuhkan, saling sikut) antar teman sejawat. Pensiun karena usia mungkin masih bisa dimaklumi tetapi jika masih gila hal keduniaan (hormat, kagum, gaji, harta, dsbnya) akan menjadi penyakit bagi tubuh. Hal yang paling menyakitkan adalah saling sikut antar teman sejawat, dan mutasi atau dipecat akan menjadi finishing.

  • Wirausaha

– : Bangkrut karena dua hal, pertama oleh tindakan sendiri dan kedua terkena tipu tetapi hal ini tidak menjadikan hal untuk berhenti melangkah dan menjadikan pengalaman dalam berwirausaha untuk lebih berhati-hati.
+ : Segala keberhasilan mutlak menjadi milik wirausahawan dan tinggal berbagi dengan yang membutuhkan.

Yah, saya doakan semoga ibu saya dapat berubah pikiran dan satu hal yang belum bisa jawab adalah “perlukah pendidikan tinggi sampai tingkat perkuliahan hanya untuk menjadi wirausahawan?” karena kunci menjadi wirausahawan adalah niat, usaha, bekerja keras dan doa (ibadah : puasa, salat wajib, sunnah dan sunnah Rosulullah). CMIIW 😀

Advertisements

One thought on “Ibu saya dan ayahnya Robert Kiyosaki

  1. Pendidikan tinggi untuk jadi wirausahawan kalau menurut saya perlu mas, walaupun mungkin enggak wajib. ya semacam sunnah gitu ya (dianjurkan jika mampu)

    karena sekalipun kita mungkin sering dengar kisah tentang pengusaha sukses dengan tingkat pendidikan yang dianggap rendah, tapi pengusaha sukses yang juga pendidikannya tinggi tu sebenernya juga banyak kan. cuma mungkin tidak sering di ekspose secara berlebihan. hehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s